Rabu, 14 Desember 2011

THE PERPETUAL COMMOTION: "Pelajaran dari sebuah KEGADUHAN"

THE PERPETUAL COMMOTION
"Pelajaran dari sebuah KEGADUHAN"
by: Michael Gunadi Widjaya


"Manchmal Musik kann auch von einem Geraeusch geboren werden"
(artinya: "Terkadang kegaduhan pun dapat melahirkan musik")

Di jaman sekarang ini, mengkomposisi musik menjadi hal yang gampang, karena semuanya serba mungkin. Namun, mengkomposisi musik juga dapat menjadi hal yang sangat sulit, juga karena semuanya adalah mungkin. Idiom tersebut merupakan adagium dalam kompositoris musik modern. Dan nampaknya, karya Kevin Olson yang berjudul "PERPETUAL COMMOTION", dapat ditelisik dengan menggunakan adagium tersebut. 

Tentang makna Perpetual Commotion itu sendiri, terdapat banyak konsep dan pemahaman. Dari mulai sebagai istilah tata gramatik sampai menjadi istilah dalam game-game dunia maya. Saya pribadi lebih suka memaknai Perpetual Commotion dari Kevin Olson sebagai, sebuah kegaduhan yang berkesinambungan. Gaduh yang terus menerus, namun tentu saja tak mengarah pada chaostic yang tak terkendali.

 

Orang mengenal Kevin Olson sebagai pianis, komposer dan juga pedagog musik dari Amerika Serikat. Sebagaimana komposer lainnya yang berkarya dalam abad ke-20, Kevin Olson banyak mendapat pengaruh dari konsep yang berkembang di abad ini. Salah satunya adalah konsep tentang ide garapan yang diambil dari fenomena situasional. Sejak abad ke-20 mulai ide garapan komposisi musik tak lagi berkutat pada musik tarian, cinta, rasa sanubari, ketuhanan belaka. Ide garapan musik modern dapat berupa situasi tidak menyenangkan, gaduh, bising, dunia antah berantah, fantasi-fantasi liar yang kadangkala dapat terasa absurd. Ide garapan komposisi Perpetual Commotion dari Kelvin Olson menjadi menarik manakala kita proyeksikan ke dalam kehidupan manusia modern. Kehidupan kita semua. Dalam kerangka inilah, upaya pemaknaan Perpetual Commotion memulai napak tilas pemaknaannya.

Upaya itulah yang diusung oleh The Golden Fingers Piano Ensemble dengan director Jelia Megawati Heru di Istituto Italiano Di Cultura - Jakarta, 19 November 2011. Untuk piece ini, The Golden Fingers menampilkan para performer yang terdiri dari APRIL, DIOPUTRA OEPANGAT, DIRAYATI FATIMA TURNER, dan Miss JELIA MEGAWATI HERU. 

Sebagai sebuah pieces musik piano, Perpetual Commotion dari Kelvin Olson tergolong berdurasi singkat. Secara keseluruhan landscape kompositorisnya menampilkan sebuah situasi gemuruh yang cukup gaduh. Namun tetap dalam bingkai estetis yang menawan. Sebuah situasional landscape komposisi yang cukup sulit untuk di interpretasi. Terutama bagi anak-anak dan remaja. Seorang Jelia Megawati Heru, sebagai director nampaknya sangat berhasil mengakomodir para muridnya untuk memahami sebuah konsepsi kompositoris musik modern, yang didasarkan pada ide garapan yang tak lazim.


Pieces diawali dengan eksplorasi pada wilayah bass dengan menampilkan pola ritmik yang shuffle. Dioputra  melakukannya dengan sangat baik. Frasenya tegas, kuat, jelas dan feel shuffle-nya sangat terasa. Dengan kata lain, Dioputra malam itu berhasil menampilkan sebuah rasa „kegaduhan yang estetis“. Sinkopasi yang dibawakan April juga sangat efektif menimpali kegaduhan estetis bass dari Dio. Tentu saja, Miss Jelia memberi kontribusi yang tidak kecil. Dengan aura dan musikalitasnya, Jelia membimbing para muridnya untuk berasyik masyuk dalam sebuah situasi yang gaduh, dengan tetap menjaga kerapihan dan teknik bermain yang layak. Bersama dengan Dirayati, mereka berempat sangat menyatu. Dengan asyiknya saling menimpali, memberi aksentuasi, saling berkejaran frase, dalam bingkai yang berkesinambungan bertemakan kegaduhan. Saat piece ini tuntas, masih terasa aura para performer yang memberi kita pemaknaan dan pelajaran. Makna dan pelajaran dari kegaduhan, yang seringkali merupakan momok menakutkan bagi sementara orang.

     


The Golden Fingers memang lebih dari sekedar kelompok ensembel biasa. Melalui Perpetual Commotion, situasi gaduh menjadi bebas bising, dan para performer-nya dapat mengais makna untuk tetap saling berbagi rasa. Saling bertoleransi dan saling mempercantik apa yang telah dilontarkan oleh rekannya. Sebuah bentuk komunikasi rasa yang perlu dikedepankan ditengah kehidupan yang makin pupus dari rasa kebersamaan.

Jelia, sebagai director, dengan background music education-nya berhasil memberi pelajaran berharga. Bahwa kita senantiasa dapat belajar dari apapun, termasuk kegaduhan yang berkesinambungan, sejauh kita masih punya passion untuk musik dalam jiwa kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar