Jumat, 07 Oktober 2011

MUSIC for LIFE - The Reason Why I'm Playing Music

 "MUSIC for LIFE"
  - The Reason Why I'm Playing Music -
Berapa kali kita mendengar bahwa beberapa orang tidak menyukai musik klasik, musik klasik itu membosankan dan membuat orang mengantuk, bahkan orang “skeptis” bertanya-tanya apa nilai dan fungsi dari musik itu sendiri? Kita hidup di lingkungan masyarakat dimana musik ditempatkan hanya sebagai hiburan (entertainment) dan musisi (terutama musik klasik) sangat tidak dihargai. Mungkin hal inilah yang menjadi ketakutan terbesar setiap orang tua, ketika anaknya memutuskan untuk menjadi seorang musisi dibandingkan menjadi seorang dokter atau arsitek.



Coba saja bayangkan nonton film “Titanic” tanpa “My Heart Will Go On”-nya Celine Dion atau “Harry Potter 5” tanpa iringan musik sama sekali! Bermacet-macet ria tanpa radio, tidak ada mp3, Itunes… pesta pernikahan/wedding ceremony tanpa Canon in D dari Pachelbel? Hari ulang tahun tanpa lagu Happy Birthday? Anniversary tanpa lagu spesial kenangan? Atau nonton Manchester United tanpa yel-yel lagu kebangsaan MU? Rasanya seperti ada yang kurang, seperti disconnected!


"Music for life” dapat memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi anak-anak, belajar memainkan alat musik itu menyenangkan dan membangun hubungan yang dapat bertahan seumur hidupnya. Bagi remaja, musik membantu membuka wawasannya tentang sejarah dan budaya - memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja sama dalam sebuah tim (teamwork) dan merupakan bentuk pengekspresian diri. Efek positif musik secara akademis di sekolah – seperti: matematika, ilmu pengetahuan alam, sejarah dunia, dan bahasa asing; juga bukanlah merupakan suatu hal yang baru. Pendidikan musik akan membantu seseorang dalam menjalani hidup lebih baik – richer, fuller & meaningful. Dan di dalam kehidupan, sebuah komunitas dengan rasa & tingkat kesenian yang tinggi merupakan tempat belajar yang lebih baik, ideal, dan sangat diinginkan oleh setiap individu. 

Setiap pilihan yang kita buat dalam hidup mencerminkan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Pilihan ini akan menunjukkan kepribadian kita dan apa yang kita rasakan tentang hidup ini. Musik juga dapat membuat kita tertawa, meningkatkan produktivitas, meringankan beban pikiran kita, membuat kita merasakan indahnya hidup, memberikan cara pandang yang baru & positif terhadap kehidupan, dan mempengaruhi jiwa kita (emosi dan perilaku). Banyak sekali efek positif musik dalam kehidupan kita sehari-hari; walaupun demikian, musik tidak selalu memberikan efek transformasi, menenangkan, dan yang akan mengubah kita. Inspirasi, pemahaman dan penerimaan akan musik hanya akan dapat dirasakan apabila kita terbuka pada ide bahwa musik dapat mengubah kita. 
 
Nah, apakah penting untuk bermain piano sekarang ini? Bukankah bermain piano di saat ini sama sekali tidak relevan? Bermain piano sekarang, mengingat kondisi krisis ekonomi, kerasnya kehidupan, dan rendahnya apresiasi masyarakat terhadap musik klasik, tampaknya konyol, aneh, tidak masuk akal, dan sia-sia. Siapa yang membutuhkan pemain piano sekarang? Mengingat hal ini, Saya merenungkan apakah Saya akan pernah bermain piano lagi?
Sambil merenungkan hal ini, akhirnya Saya memutuskan untuk tidak bermain piano pada saat itu, dan lebih memilih menghabiskan waktu Saya untuk mengobservasi kondisi lingkungan sekitar Saya. Pada waktu itu, di TV Saya melihat tayangan konser penggalangan dana bagi korban tsunami di Jepang. Mengapa disaat kritis seperti itu orang masih dapat bermain musik? Dan Saya teringat film “The Pianist” (2002) tentang autobiografi dari musisi Polandia-Yahudi, Wladyslaw Szpilman (Adrien Brody) yang ada dalam kondisi di tengah Perang Dunia II dan mengalami kekejaman tentara SS NAZI Jerman. Ada satu adegan yang tidak terlupakan, dimana dia memainkan Chopin Ballade No. 1, op. 23 in G minor di depan kapten Jerman Wehrmacht, yaitu: Wilm Hosenfeld (Thomas Kretschmann) di tengah reruntuhan tempat persembunyian Szpilman. Oleh karena permainannya itu, Hosenfeld tidak membunuh Szpilman, bahkan memberikan makanan kepadanya di tempat persembunyiannya itu sampai perang usai.
 
Dari dua hal ini, Saya mengerti bahwa musik adalah bukan bagian dari "seni dan hiburan" dari surat kabar yang kita percayai. Musik bukanlah barang mewah, hal mewah yang kita danai dari sisa-sisa anggaran kita, bukan mainan atau hiburan atau menghabiskan waktu senggang. Musik adalah kebutuhan dasar kelangsungan hidup manusia. Musik adalah salah satu cara kita memahami hidup kita, salah satu cara di mana kita mengungkapkan perasaan ketika kita tidak memiliki kata-kata, satu cara bagi kita untuk memahami hal-hal tidak dengan pikiran kita, tetapi dengan hati kita. 
 
 
Salah satu komposisi musik yang paling berkesan bagi Saya adalah Quartet for the End of Time (Kuartet Akhir Jaman) ditulis oleh komposer Perancis Olivier Messiaen pada tahun 1940. Messiaen berusia 31 tahun ketika Perancis memasuki perang melawan NAZI Jerman. Ia ditangkap oleh Jerman pada Juni 1940 dan dipenjara di sebuah perkemahan khusus bagi tawanan perang. Dia beruntung untuk menemukan seorang penjaga penjara simpatik yang memberinya kertas dan tempat untuk menulis, dan beruntung memiliki rekan-rekan musisi di sana: ​​pemain cello, biola, dan sebuah klarinet. Messiaen menulis kuartet tsb tanpa istrumen. Konser ini dilakukan di bulan Januari 1941 di hadapan empat ribu tahanan dan penjaga penjara.
 
Mengingat apa yang kita ketahui tentang kehidupan di perkemahan NAZi, terbersit pertanyaan mengapa ada orang waras yang menghabiskan energi dan membuang-buang waktu untuk menulis atau memainkan musik? Energi yang ada bahkan tidak cukup untuk menemukan makanan dan air, untuk menghindari pemukulan, untuk tetap hangat, agar tidak disiksa. Namun, bahkan di tengah situasi seperti itu, kita masih memiliki puisi, kita memiliki musik, kita memiliki seni visual; Disinilah letak arti penting seni, yaitu bagi kelangsungan hidup manusia. Tidak mempunyai  uang, harapan, rasa hormat, tidak menghilangkan seni itu sendiri. Dari sini dapat disimpulkan bahwa seni merupakan bagian dari kelangsungan hidup manusia, bagian dari jiwa manusia, sebuah ekspresi yang tak terpadamkan tentang siapa diri kita. Seni adalah salah satu cara di mana kita mengatakan, "Aku hidup, dan hidup saya memiliki arti."

Oleh: Jelia Megawati Heru

1 komentar:

  1. Ada ungkapan begini : APA SIH UNTUNGNYA MENDENGARKAN MUSIK CHOPIN ?APA SIH UNTUNGNYA MEMAINKAN MUSIK CHOPIN??..jawabannya...TAK ADA UNTUNGNYA !! namun...batin kita membutuhkan "yang tak ada untungnya" itu..agar seimbanglah budaya kasat mata dan isian relung bathiniah kita.jel,keep on to be A GENERAL,with your keyboard as your soldiers.Regards

    BalasHapus